by

SIGAYANG LALANG LIPA

-News-1,610 views
image illustration from google

Karewata.com_Mamuju- Sikayang Lalang Lipa atau dalam bahasa Indonesia disebut Saling Tikam dalam Sarung merupakan tradisi leluhur Mandar pada era Tomakaka di wilayah Appe Banua Kaiyyang (Empat Benua Besar). Setelah wilayah Appe Banua Kaiyyang tersebut menjadi kerajaan Balanipa di bawah kepemimpinan Imayambungi (Raja Pertama Balanipa) tradisi tersebut sudah dihapuskan. Namun situsnya masih bisa ditemukan di Wilayah Tammajarra Kecamatan Balanipa Kabupaten Polewali Mandar.

Situs disebut dengan nama Bala Tau.  Bala artinya kandang sedangkan Tau adalah Orang sehingga Bala Tau disebut Kandang Orang, dapat diartikan juga sebagai Ring Pertarungan, Bala Tau tersebut berdinding daun nipa. Sehingga seiring berjalannya waktu masyarakat lebih sering mengucapkan Balanipa, yang dimana hal ini menjadi dasar penamaan Kerajaan Balanipa.

Bala tau merupakan tempat pengadilan bagi masyarakat Appe Banua Kayyang dalam menyelesaikan suatu perkara hukum yang tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan atau damai.

Pada gelar perkara laki-laki diadu baku tikam dalam sarung dengan membawa badik masing-masing, namun ada pula informan lain, bahwa ada juga yang tidak menggunakan sarung, tetapi menggunakan Tuyu Purrus (pengikat lingkaran celana), yang dimana kedua pihak yang berperkara mempertemukan ikatan celananya dengan cara diikat kemudian dipertarungkan, untuk yang meninggal  atau kalah mayatnya dibuang kedalam lubang jurang sedangkan yang masih hidup dianggap sebagai pemenang.

Untuk gelar perkara perempuan yaitu menggunakan wajan besar yang berisi minyak mendidih, lalu kemudian kedua pihak yang berperkara memasukkan kedua tangannya kedalam wajan tersebut, yang merasakan panas atau sakit (terluka) maka divonis sebagai yang salah dan dibuang kedalam lubang jurang, sedangkan yang tidak merasakan panas tanpa luka-luka maka dialah pemenang kebenaran dalam perkara tersebut.

Menariknya, menurut narasumber bahwa, meskipun orang yang memiliki ilmu kebal dan ilmu kehebatan lainnya, baik laki-laki maupun perempuan jika salah, tetap akan kalah dalam gelar perkara tersebut, begitupun sebaliknya, meskipun tidak memiliki ilmu kebal atau ilmu lainnya, namun benar maka tetap akan menjadi pemenang dalam gelar perkara tersebut.

Sumber:  Galeri Mandar Indonesia

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed