by

Evaluasi Implementasi Program OVOP di Sulbar

-Akademik-281 views

Oleh : Syamsuriadi S.Sos.,M.M. Dosen Fisipol Unika  

Karewata.com_Mamuju- One Village One Product (OVOP)  adalah sebuah gerakan revitalisasi ekonomi regional yang digagas oleh Gubernur Provinsi OITA, Morihiko Hiramatsu, Gerakan OVOP yang dimulai tahun 1979 di Oita, Jepang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat desa di Jepang. Berkat kesuksesan ini, OVOP tidak hanya ditiru oleh perfektur-perfektur selain Oita di Jepang. Dalam gerakan OVOP, para penduduk lokal mengembangkan sebuah produk yang akan menjadi produk khas dan kebanggaan wilayah lokal mereka dan memiliki nilai kompetitif baik di pasar nasional maupun global. Yang dimaksud produk disini, tidak hanya berupa barang tetapi bisa pula berupa jasa.

Para penduduk bekerja sama dengan pihak pengusaha lokal dan dengan bantuan asistensi teknis dari pemerintah mengembangkan produk ini, yang kemudian dipasarkan secara lokal, nasional, dan internasional. Meski tema gerakan ini adalah menyebut “One Village, One Product” tetapi dalam kenyataannya produk yang dikembangkan tidak dibatasi hanya satu produk. Satu desa bisa mengembangkan dua produk atau lebih. Terdapat 3 prinsip utama yang mendasari aktivitas pemberdayaan dalam OVOP.

Pertama, Local yet Global, merupakan prinsip yang mendasari dalam mengembangkan produk OVOP, dimana produk yang diciptakan tidak hanya harus merefleksikan kebanggaan budaya lokal tetapi juga dapat diterima secara global oleh masyarakat internasional. Dengan begitu, maka pasar dari produk ini dapat dikembangkan tidak hanya pada tingkat lokal atau nasional saja, tetapi hingga internasional. Kedua, Self-reliance and creativity, melalui prinsip ini, gerakan ini juga hendak menekankan kemandirian para aktor lokal dalam mengelola usaha produk mereka.

Dalam kajian system pemerintahan Desa perlu kembali merefleksi dan mengevalusi program yang di diintegrasikan dalam inovasi One Village One Product oleh pemerintah provinsi Sulawesi Barat pasalnya implementasi program tersebut belum meberikan hasil yang sangat memuaskan dilain sisi program yang di rencanakan oleh desa dalam musrembang desa atau Rencana Pembangunan Jangka Menegah Desa (RPJMDES)  hampir semua mengarah kepada program fisik hanya sedikit yang mengarah ke pemberdayaan itupun dalam bentuk seminar atau pelatihan sehingga kurang mengedepankan sisi konsep pendpatan desa dan menjadi program yang habis tidak ada income bagi desa ini mesti yang harus menjadi Refleksi bagi  pemerintah baik ditingkatan Desa maupun Kabupaten dan Provinsi,

Pemerintah mesti menjadi payung untuk memberikan pemahaman kepada Desa agar jelas dan terarah karena seperti yang kita ketahui bahwa jabatan kepala desa adalah jabatan politik yang siapa saja bisa menjadi kandidat kepala desa meskipun dari kalangan manapun sehingga banyak fakta dilapangan kepala desa kurang meberikan perhatian hal terssebut seperti yang di jelaskan diatas jangankan hal diatas konsep penyusunan Rancangan Peraturan Desa dari berbagai Dimensi seperti dimensi ekonomi,peraturan yang menambah inome desa kurang perhatian.

One Village One Product (OVOP) adalah sebuah konsep yang di programkan pemerintah khusunya keneterian perindustrian guna menunjang keberhasilan desa dalam membangun konsep pemberdayaaan masyarakat yang sevara terorganisir,termenajemen dan mempunyai sebuah admnistrasi yang menambah income bagi desa yaitu satu desa satu product atau secara sederhanya dapat dilihat bahwa desa harus mempunyai keunggulan komperatif dalam pengelolaan sumberdaya alam maupun hal-hal yang lain yang bias menunjang keberhasilan desa, tetapi kita belum bisa  melihat tolak ukur keberhasilan yang dilakukan oleh pemerintah Provinsi dalam program ini karena kurang memberikan perhatian terhadap program tersebut .ini dapat kita lihat dilapangan dari beberapa desa di Kabupaten-Kabupaten yang menjadi Sampel dalam program OVOP dan hanya sekedar menggugurkan program kerja.

Dalam kegiatan program OVOP ini Juga tidak termanjemen dengan baik pasalnya  konsep OVOP mestinya mengacu pada Planning,Organizing, Aktuating dan Controlling sebagai masukan dasar manajemen yang baik dalam pelaksanaan program tersebut,yang menjadi pesoalan diatan program OVOP kurang terorganizir dan terkontrol dengan baik sudah sampai dimana tolak ukur dari program tersebut.

Untuk menjamin keberhasilan program dengan baik mesti melaksanakan tahapan evaluasi tentang kekurangan apa yang menjadi implementasi program tersebut dan perlu adanya transparansi dan akuntabilitas dalam setiap item program yang terlaksana pada program satu desa satu produk (OVOP) di wilayah Sulawesi Barat Ini khusunya daerah yang menjadi sampel dari program tersebut.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed